Tradisi Tarhib Ramadhan di Berbagai Negara

Yuk ke Aceh Festival Ramadhan 2021, Besok Mulai Dibuka

Menjelang bulan Ramadhan tiba, di Indonesia dan berbagai negara lain mempunyai tradisi khas tarhib Ramadhan. Secara teknisarti tarhib Ramadhan memiliki akar kata yang sama dengan kata marhaban yang berarti selamat datang. Secara etimologis, tarhib berasal dari bahasa Arab, “ra-hi-ba, yarhabu, rahbun” yang berarti luas, lapang dan lebar, yang selanjutnya menjadi fi’il “rahhaba, yurahhibu, tarhiban” yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. Jadi, arti tarhib Ramadhan yaitu kegiatan menyambut bulan Ramadan dengan segala kesiapan, keluasan, serta kelapangan jiwa serta raga. Setiap negara memiliki ciri khas tradisi tarhib Ramadhan yang berbeda-beda sebagai bentuk suka cita. Berikut ini adalah tradisi tarhib Ramadhan di berbagai negara.

  • Indonesia

Menjelang puasa, sebagian umat muslim di Indonesia mempunyai tradisi membersihkan diri yang disebut padusan. Istilah padusan dalam bahasa Jawa yang memiliki arti memandikan ini bertujuan untuk mensucikan diri. Padusan dilakukan dengan merendam diri dalam kolam sehingga seluruh tubuh basah. Dikutip dari The Culture Trip, padusan merupakan hasil perpaduan kebudayaan dan agama di Indonesia. Kolam memiliki arti penting bagi masyarakat Jawa dan mempunyai peran utama dalam padusan. Praktik ini dipercaya disebarkan oleh Wali Songo dan ulama lain yang berdakwah di tanah Jawa. Namun, saat ini masyarakat lebih memilih membersihkan diri di rumah masing-masing.

  • Maroko

Saat bulan Ramadan tiba, warga di Maroko akan memilih beberapa orang untuk ditunjuk sebagai Nafar. Nafar yaitu sekelompok orang (kebanyakan laki-laki) yang bertugas berkeliling kota untuk meniup terompet atau musik lainnya, membawakan doa-doa, dan membaca shalawat dengan suara yang merdu. Nafar dipilih berdasarkan kejujuran dan keuletannya dalam bekerja. Di akhir bulan Ramadan, warga akan memberikan kompensasi berupa uang dan barang untuk para Nafar.

  • Uni Emirat Arab (UEA)

Di Uni Emirat Arab terdapat tradisi Haq al laila, tradisi ini dilakukan setiap 15 Syaban yaitu bulan sebelum Ramadhan dalam penanggalan Hijriah. Tradisi dilakukan oleh anak-anak yang berjalan mengeliling lingkungan rumah dengan pakaian berwarna terang. Mereka mengumpulkan kacang dan permen dari para tetangga dalam wadah yang disebut kharyta. Saat berjalan, anak-anak menyanyikan lagu tradisional setempat atau mengucapkan Aatona Allah Yutikom, Bait Makkah Yudikum. Artinya adalah Berikan pada kami (kacang atau permen) dan Allah akan membalas kebaikanmu dan menolongmu mengunjungi Kakbah di Makkah.

  • Lebanon

Di negara Lebanon terdapat satu tradisi menyambut Ramadan yang unik, yaitu menembakkan meriam yang suaranya dapat terdengar seantero negeri. Tradisi ini bermula sekitar 200 tahun lalu. Saat itu, penguasa Ottoman, Khosh Qaddam sedang mencoba meriam barunya di sore hari menjelang bulan Ramadhan. Suaranya yang menggelegar terdengar di seluruh negeri. Banyak masyarakat yang kemudian berasumsi bahwa hal itu penanda datangnya bulan Ramadhan. Sejak saat itu, setiap bulan Ramadhan tiba, meriam ditembakkan sebagai penanda waktu berbuka.

  • Mesir

Setiap tahunnya warga Mesir menyambut Ramadhan dengan lentera warna-warni dengan berbagai corak. Lentera tersebut menjadi simbol persatuan dan rasa senang memasuki bulan Ramadhan. Ada berbagai versi cerita di balik tradisi ini, namun yang paling terkenal ada kaitannya dengan Kekhalifahan Fatimiyah. Warga Mesir dikisahkan menyambut kedatangan kalifah Al-Muʿizz li-Dīn di Kairo pada awal Ramadhan. Saat itu jalanan Mesir gelap, sehingga masyarakat diminta menyalakan lentera untuk menerangi jalan. Seiring berjalannya waktu, lentera tersebut menandai datangnya bulan Ramadhan yang dibawa anak-anak sambil meminta permen atau makanan kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *