Apakah Boleh Membayar Zakat Secara Online? Bagaimana Hukumnya?

main image

Memang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa tren pembayaran zakat secara online semakin diminati oleh sebagian besar masyarakat urban. Hal itu bukan tanpa alasan, mengingat system pembayaran zakat online yang memang lebih mudah.

Bagimana tidak mudah, sebab cukup dengan bermodalkan sebuah gadget dan kuota internet saja kita sudah bisa membayar zakat fitrah di mana saja dan kapan saja. Dengan adanya zakat fitrah online, secara otomatis si pemberi zakat tidak akan bertemu langsung dengan amil (pihak yang bertanggung jawab dalam mengumpulkan dan mendistribusikan zakat). 

Nah, karena hal tersebutlah yang sempat menimbulkan pro dan kontra mengenai sistem pembayaran zakat secara online. Dengan kata lain, hukum mengenai boleh atau tidaknya zakat secara online masih menjadi perdebatan di kalangan para ulama seluruh dunia.

Lantas, apakah membayar zakat secara online itu boleh atau tidak? 

Menurut pernyataan dari Amirsyah Tambunan selaku Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang menyebutkan bahwa pembayaran zakat secara online sebenarnya diperbolehkan, asalkan semua rukun dan syarat zakatnya terpenuhi. 

Disamping itu, Amirsyah juga mengatakan perihal ijab Kabul zakat baik secara lisan atau tertulis seperti formulir yang di sediakan oleh situs zakat online itu pun diperbolehkan. Zakat via online sah-sah saja dilakukan selama ada pemberi zakat, harta yang hendak dizakatkan, dan penerima zakat tanpa perlu ijab Kabul atau berhadapan langsung dengan para amil (pengurus zakat). 

Bukan hanya itu, Amirsyah pun memaparkan tentang unsur terpenting dalam menunaikan zakat, yakni harus beragama Islam dan sudah baligh, orang yang memberi zakat, harta yang akan dizakatkan sesuai haul dan nisab, serta orang-orang yang berhak mendapatkan zakat sesuai tuntunan Islam. 

Lalu, siapa sajakah orang-orang yang berhak menerima zakat?

8 Golongan Orang-orang yang Berhak Mendapat Zakat Dalam Al-Quran

1. Fakir

Fakir adalah golongan orang-orang yang hampir tidak mempunyai apa-apa sehingga tidak mampu untuk membeli kebutuhan pokok. Orang fakir juga digambarkan kepada mereka yang tidak memiliki harta dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluargnya. 

2. Miskin

Miskin adalah golongan orang-orang yang memiliki pekerjaan tetap dan berpenghasilan, namun keadaannya selalu serba kekurangan. 

3. Amil

Al’amilin atau amil adalah orang-orang yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, dengan syarat harus beragama Islam, akil dan baligh, merdeka, adil, mendengar, melihat, laki-laki, dan mengerti tentang hukum agama. . 

4. Muallaf 

Muallaf yang harus mendapatkan zakat itu terbagi lagi kedalam tiga golongan seperti : 

  • orang-orang yang dirayu untuk memeluk Islam
  • orang-orang yang dirayu untuk membela umat Islam
  • orang-orang yang baru masuk Islam kurang dari 1 tahun sehingga perlu bantuan dalam beradaptasi. 

5. Hamba Sahaya

Hamba sahaya merupakan seorang budak yang ingin memerdekakan dirinya, termasuk juga pembebasan seorang Muslim yang ditawan oleh orang kafir, atau membebaskan serta menebus seorang Muslim dari penjara karena tidak mampu membayar diat. 

6. Gharimin

Gharimin adalah mereka yang memiliki hutang untuk kebutuhan hidup dalam mempertahankan jiwa dan izzahnya untuk kepentingan umat Islam, seperti berhutang karena membangun masjid, pesantren, mushola, dan sebagainya. 

7. Fisabilillah

Fisabilillah adalah orang-orang yang sedang berjuang di jalan Allah dalam berbagai bentuk, seperti dakwah, berperang demi agama Islam, dan sebagainya

8. Ibnus Sabil

Ibnus sabil merupakan seorang musafir yang sedang dalam perjalanan bukan untuk kepentingan maksiat, namun kehabisan perbekalan seperti berupa uang maupun makanan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *